MAKALAH TANGMETER

Posted: March 25, 2014 in Uncategorized

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering menjumpai berbagai alat ukur listrik yang digunakan untuk membantu dalam mengidentifikasi/mencari tahu informasi kemampuan kerja suatu alat atau komponen listrik dan juga untuk mencari tahu apakah komponen tersebut masih dapat berfungsi atau tidak. Akan tetapi, tidak semua alat ukur listrik dapat digunakan dalam semua kondisi. Misalkan kita akan mengamati berapa besar hambatan pada resistor, maka alat ukur listrik yang paling tepat digunakan adalah ohmmeter atau multitester.
Namun ketika kita akan mengukur arus, tegangan, daya, dan tahanan dalam jumlah yang besar pada alat penghemat listrik, kita tidak dapat menggunakan multitester, ampermeter, ohmmeter, atau voltmeter karena sistem kerja alat ukur listrik tersebut harus memutus sikrit agar dapat terhubung ke alat ukur listrik tersebut, sedangkan penghemat listrik harus terus dihidupkan agar penggunaan listrik dapat dihemat. Dari permasalahan tersebut maka dibuatlah alat ukur listrik yang dapat bekerja dengan tanpa memutus sikrit dan juga dapat digunakan pada pengukur arus, tegangan, daya dan tahanan dalam jumlah yang besar yaitu Clamp Meter (Tang Ampere).
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah:
1. Apakah Clamp Meter (Tang Ampere)?
2. Macam-macam Clamp Meter (Tang Ampere)?
3. Bagaimanakah prinsip kerja Clamp Meter (Tang Ampere)?
4. Bagaimana cara menggunakan Clamp Meter (Tang Ampere)?
5. Apakah keuntunngan Clamp Meter (Tang Ampere)?
1.3 Tujuan Penulisan

Sesuai dengan rumusan masalah, maka tujuan penulisan makalah ini adalah:

1. Mengetahui alat ukur listrik Clamp Meter (Tang Ampere)
2. Mengetahui macam-macam Clamp Meter (Tang Ampere)
3. Mengetahui prinsip kerja Clamp Meter (Tang Ampere)
4. Mengetahui cara menggunakan Clamp Meter (Tang Ampere)
5. Mengetahui keuntunngan Clamp Meter (Tang Ampere)

 

 

 

 

 

 

 

 

II. PEMBAHASAN

2.1 Definisi Clamp Meter (Tang Ampere)
Tidak selamanya kondisi peralatan listrik yang ada, baik di kantor, di rumah ataupun di pabrik, seperti AC, pompa air, induction motor dll, selamanya dalam keadaan normal, adakalanya alat tersebut mengalami kerusakan, atau masih dalam tahap gejala kerusakan, akibat dari usia pemakaian yang cukup lama. Untuk mengetahui alat tersebut dalam keadaan normal atau tidak normal, dapat diketahui, salah satunya dengan cara melihat atau mengukur besarnya arus listrik yang mengalir pada beban atau peralatan listrik, lalu nilai arus listrik yang didapat kita bandingkan dengan rated atau kapasitas kerja yang tertera pada peralatan listrik tersebut, hasilnya jika data pengukuran lebih besar dari pada rated maka pada alat listrik tersebut terdapat kelainan maka harus segera dilakukan pemeriksaan. Cara mengetahui atau mengukur arus listrik yang mengalir pada beban yaitu dengan cara menggunakan alat ukur yang dinamakan tang ampere, yaitu alat yang berfungsi untuk mengukur besarnya arus listrik.
Tang ampere adalah sebuah alat yang digunakan untuk mengukur arus, tegangan, daya dan tahanan dalam jumlah yang besar, tanpa memutus sirkit. Tang ampere digunakan untuk mengukur arus listrik pada saat melakukan perawatan atau perbaikan AC. Untuk mengukur arus listrik caranya cukup masukkan salah satu kabel (positif atau negative) ke dalam mulut tang ampere. Lihat hasil yang terukur pada skala tang ampere.
Bila arus yang mengalir pada suatu jaringan akan diukur sedangkan tidak memungkinkan memotong jaringan tersebut untuk menghubungkan alat pengukur ampere atau melalui suatu transformator arus, apabila jaringan diputus maka pemberian daya akan terhenti, penggunaan alat ukur ampere jaringan merupakan pemecahan masalah yang sangat baik. Seperti diperlihatkan dalam gambar 1.a alat ukur ampere jaringan dibuat dengan kumparan besi dalam bentuk seperti garpu atau tang yang mempunyai banyak lilitan, dan membentuk kumparan sekunder, dan satu penghantar sebagai kumparan primer dari satu lilitan, yang terdiri dari penghantar di mana arus yang diukur mengalir. Bila penghantar ditempatkan diantara inti besi seperti diperlihatkan dalam gambar, arus sekunder yang berbanding lurus dengan arus yang akan diukur didapat di layar display pada alat. Akan tetapi dengan cara pengukuran ini di mana jalan magnet tidak menutup, maka kesalahan-kesalahan yang tergantung dari posisi pemasukan dari penghatar ke dalam inti, ditambah pula kesalahan betuk gelombang dan frekuensi yang besar. Untuk mengurangi kesalahan-kesalahan tersebut maka alat tang ampere yang digantungkan seperti diperlihatkan dalam gambar 1.b lebih baik dipergunakan. Dalam alat ukur ini jalan garis magnet hanya terbuka pada saat memasukkan penghantar ke dalam inti besi, sedangkan garis-garis magnet tersebut menutup pada saat pengukuran dijalankan.

 

 

(b)
Gambar. 1 Pengukuran arus pada kawat penghanta

Tang ampere juga bisa digunakan untuk mengetahui hambatan refrigerant di dalam system pendingin. Nilai arus listrik yang terukur pada tang ampere bisa digunakan sebagai patokan hambatan refrigerant di dalam system. Mengukur hambatan harus terbebas dari sumber tegangan. Sebelum mengukur hambatan jangan lupa hubungan listrik harus dilepas terlebih dahulu. Tusukkan kabel yang ada batu baterainya kepada tang ampere. Jika ujung yang lain dari kabel tersebut dengan ujung merah dilekatkan, jarum penunjuk skala harus menunjuk 0 Ohm (tidak ada hambatan). Apabila jarum tidak menunjuk 0 Ohm, penunjuk jarum harus diputar sampai jarum menunjuk 0. Setelah itu baru tang ampere dapat mulai dipakai. Tang ampere banyak dipakai untuk mengukur hubungan kabel dalam suatu rangkaian listrik, mengukur hambatan listrik, untuk mencari terminal C, S, dan R dari motor listrik.
2.2 Macam-Macam Clamp Meter (Tang Ampere)
Adapun macam-macam clamp meter (tang ampere) yaitu:

*Tang Ampere analog
Tang Ampere Analog yaitu tang amper yang menggunakan sistem analog.
Berikut ini gambar tang ampere analog:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Setelah arus mengalir dalam kumparan dengan tegangan tertentu maka akan langsung diolah oleh komponen-komponen penyusun Clamp Meter (Tang Ampere) Analog dan di kirim ke Display.

Prinsip kerja Display ini adalah menggunakan prinsip kerja alat ukur kumparan putar. Alat ukur kumparan putar ialah alat ukur yang berkerja atas dasar prinsip dari adanya suatu kumparan listrik, yang ditempatkan pada medan magnet, yang berasal dari suatu magnet permanen. Arus yang di alirkan melalui kumparan akan menyebabkan kumparan tersebut berputar. Ketika kumparan berputar maka jarum penunjuk berputar sesuai dengan besarnya arus listrik yang masuk kedalam kumparan pada alat ukur kumparan putar. Dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

(Gambar. Alat ukur kumparan putar yang dialiri arus listrik)

*Tang Ampere digital
Tang Ampere Digital yaitu tang amper yang menggunakan sistem Digital.
Berikut ini gambar tang ampere digital:

 

 

 

 

 

Setelah arus mengalir dalam kumparan dengan tegangan tertentu maka akan langsung diolah oleh komponen-komponen penyusun Clamp Meter (Tang Ampere) Digital. Gambar dibawah ini menunjukkan blok diagram dari sistem yang dibuat.

(Gambar . Blok diagram sistem)

Induktor merupakan clamp yang menerima input berdasarkan hukum Faraday. Tegangan yang diukur perlu dimasukkan ke dalam sebuah rangkain buffer karena masalah impedansi yang tepat. Hal ini bertujuan untuk menghindari drop tegangan pada sistem. Karena tegangan yang dihasilkan kecil, maka perlu dikuatkan oleh sebuah amplifier.
Tegangan yang dihasilkan sampai tahap ini masih berupa AC, padahal ICL 7107 (ICL 7107 adalah sebuah ADC/Analog Digital Converter yang keluarannya dapat langsung ditampilkan ke 3½ 7- segment. IC ini menerima input tegangan maksimal 2V) hanya menerima sinyal DC. Dengan adanya kondisi ini, diperlukan sebuah penyearah. Penyearah yang dipakai harus menggunakan precision rectifier karena apabila menggunakan diode saja akan terdapat tegangan yang hilang. Selain itu sinyal yang terukur juga termasuk kecil.
2.3 Prinsip kerja Clamp Meter (Tang Ampere)

Pengukuran arus merupakan salah satu prosedur yang dilakukan pada perawatan berkala suatu alat. Pengukuran secara konvensional mengharuskan seseorang memotong kabel yang akan diukur arusnya. Tetapi hal ini tidak dapat dilakukan pada semua sistem, misalnya pada sebuah sistem yang harus berjalan 24 jam dalam sehari. Pemotongan kabel harus dilakukan pada saat system dimatikan. Sekarang pengukuran dengan metode lama itu sudah mulai digantikan dengan sistem clamp. Sistem clamp menggunakan prinsip hukum Faraday yang mengatakan bahwa perubahan fluks magnet dalam sebuah kumparan akan menimbulkan arus yang akan mengalir pada kumparan itu. Secara umum, Faraday mengatakan bahwa perubahan fluks magnet dalam sebuah kumparan akan menimbulkan arus yang mengalir pada kumparan. Apabila jumlah lilitan semakin besar, maka semakin besar pula tegangan yang dapat diukur di kedua ujung kumparan itu. Tegangan yang terukur di kumparan itu biasanya dalam orde mili volt. Arus AC yang mengalir pada sebuah kabel akan memberikan perubahan fluks, sehingga besarnya arus tersebut dapat diukur dengan menggunakan sistem clamp. Gambar dibawah ini adalah gambar timbulnya perubahan fluks magnet.

Setelah arus mengalir dalam kumparan dengan tegangan tertentu maka akan langsung diolah oleh komponen-komponen penyusun Clamp Meter (Tang Ampere) sesuai dengan tang ampere apa yang digunakan, apakah tang ampere digital atau tang ampere analog.
2.4 Cara menggunakan Clamp Meter (Tang Ampere)

 Sebelum menggunakan tang ampere, kita harus tahu bagian-bagian dari tang ampere sebagai berikut.

 

 

 

 Pengenolan
a. Tang ampere digital
Alat ini sudah terkalibrasi secara otomatis, cukup dengan memutar swicth tidak ke arah off .

b. Tang ampere analog
clamp meter analog yaitu dengan memutar kalibrator hingga jarum jam menunjukkan angka nol.

 Pengukuran Arus
1. Menekan tombol hold (induksi)
2. Memutar swicth ke arah A(ampere)
3. Menekan tombol di sebelah kanan untuk membuka magnit yang berbentuk seperti tang.
4. Mengklemkan atau mengalungkan tang ampere pada kabel. Kabel hitam jika pada kwh dan kabel kuning jika pada panel biasa.
5. Membaca nilai arus yang tertera pada layar display. Seperti terlihat pada dibawah ini.

Gambar. pengukuran kuat arus menggunakan tang amper
 Pengukuran Tegangan
1. Menekan tombol hold (induksi)
2. Memutar swicth ke arah Vrms (volt)
3. Menekan tombol di sebelah kanan untuk membuka magnit yang berbentuk seperti tang.
4. Mengklemkan atau mengalungkan tang ampere ke kabel warna kuning pada panel biasa.
Kabel pada alat: Kabel hitam ke nol (standar) pada pane
Kabel merah ke api (RST tiga fasa) pada panel.
5. Membaca nilai tegangan yang tertera pada layar display. Seperti terlihat pada gambar dibawah ini.

Gambar. Cara pengukuran tegangan menggunakan clamp meter

2.5 Keuntunngan Clamp Meter (Tang Ampere)

Pengukuran arus merupakan salah satu prosedur yang dilakukan pada perawatan berkala suatu alat. Pengukuran secara konvensional mengharuskan seseorang memotong kabel yang akan diukur arusnya. Tetapi hal ini tidak dapat dilakukan pada semua sistem, misalnya pada sebuah sistem yang harus berjalan 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Pemotongan kabel harus dilakukan pada saat sistem dimatikan. Sekarang pengukuran dengan metode lama itu sudah mulai digantikan dengan sistem clamp.
Clamp meter adalah sebuah alat ukur yang sangat nyaman digunakan yang memberikan kemudahan pengukuran arus listrik tanpa mengganggu rangkaian listriknya. Saat melakukan pengukuran arus listrik menggunakan multimeter, kita harus memotong kabel/memutusnya dan menghubungkan alat ukur tersebut ke rangkaian yang hendak diukur. Namun jika menggunakan clamp meter/tang ampere, kita dapat mengukur arus dengan hanya meng-clamp kan pada salah satu kabel/konduktor. Salah satu keuntungan dari tang ampere ini adalah kita bahkan dapat mengukur arus tinggi tanpa harus mematikan terlebih dulu rangkaian yang akan diukur.

 

 

 

 

 

III. PENUTUP

3.1 Simpulan
Dari pembahasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Tang ampere adalah sebuah alat yang digunakan untuk mengukur arus, tengangan, daya dan tahanan dalam jumlah yang besar, tanpa memutus sirkit.
2. Tang ampere terdiri dari dua macam yaitu tang ampere digital dan tang ampere analog.
3. Prinsip kerja dalam tang listrik ini adalah hukum faraday ( fluks magnet yang mengalir pada kumparan akan menghasilakan arus listrik yang mengalir pada kumparan tersebut).
4. Sistem pembacaan pada tang ampere tergantung pada tang ampere apa yang digunakan, jika tang ampere digital maka pembacaannya langsung pada Display. Sedangkan pada tang ampere analog yaitu pada jarum penunjuk.
5. Alat ini sudah terkalibrasi secara otomatis, cukup dengan memutar swicth tidak ke arah off ini untuk clamp meter digital sedangkan untuk clamp meter analog yaitu dengan memutar kalibrator hingga jarum jam menunjukkan angka nol.

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Nishino, Osamu. 1994. Pengukuran dan Alat-Alat Ukur Listrik. Jakarta: PT Pradya Paramita.
Bambang. 2010. Tang Ampere. http://ilmulistrikdasartop.blogspot.com diunduh 14 Maret 2013.
Dony. 2011. Prinsip Tang Ampere. http://www.ruby-electronics.com/images/mtr-dt-3348. diunduh 14 Maret 2013.
Mustafa, Korul. 2012. Cara Kerja Tang Ampere Analog dan Digital. http://www.img.alibaba.com/photo/50677183/ diunduh 14 Maret 2013.
Notalit, Vivina. 2010. Tang Ampere analog. http://www.img.com/photo/50677183/ diunduh 14 Maret 2013.
Wayan. 2011. Clamp Meter. http://www.meterdigital.com/content/ diunduh 14 Maret 2013.

 

 

 

 

KATA PENGANTAR

Rasa syukur yang dalam saya sampaikan ke hadiran Tuhan Yang Maha Pemurah, karena berkat kemurahanNya makalah ini dapat saya selesaikan sesuai yang diharapkan. Dalam makalah ini saya membahas “Tang Ampere(Clamp Meter)”.
Makalah ini dibuat dalam rangka memperdalam pemahaman dan penggunaan alat ukur Tang Ampere(Clamp Meter) yang sangat diperlukan dalam suatu peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia sehingga diharapkan dapat digunakan dalam meninjau rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia sekaligus melakukan apa yang menjadi tugas saya sebagai mahasiswa yang mengikuti mata kuliah “Instrumen Fisika”.
Penulis menyadari bahwa makalah ini belum sempurna, sehingga penulis membutuhkan kritik dan saran dari pembaca. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Dalam proses pendalaman materi Instrumen Fisika ini, saya mengucapkan terimakasih kepada Bapak Dr. Agus Suyatna, M.Si., selaku Dosen mata kuliah Instrumen Fisika yang telah membantu dalam pendalaman materi dan memberikan tugas ini.

Bandar Lampung, 21 Maret 2012

Penyusun

 

DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR…………………………………………………. i
DAFTAR ISI…………………………………………………………… ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah……………………………………. 1
1.2 Rumusan Masalah…………………………………………… 1
1.3 Tujuan Penulisan…………………………………………….. 2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Definisi Clamp Meter (Tang Ampere)……………………………3
2.2 Macam-Macam Clamp Meter (Tang Ampere)……………………5
2.3 Prinsip kerja Clamp Meter (Tang Ampere)………………………9
2.4 Cara menggunakan Clamp Meter (Tang Ampere)………………10
2.5 Keuntunngan Clamp Meter (Tang Ampere)…………………….12
BAB III PENUTUP
3.1 Simpulan…………………………………………………. 10
DAFTAR PUSTAKA

 

TANG AMPERE (CLAMP METER)
( Makalah Instrumentasi Fisika )

Oleh
Ana Kurnia Sari 1113022005
Bertha Dwi Utami T P 1113022009
Praba Kurnia Dini Kalinda 1113022043
Yulia Zahra 1113022067

 

Pendidikan Fisika
Jurusan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung
Bandar Lampung
2013

 

MAKALAH TERMOSTAT

Posted: March 25, 2014 in Uncategorized

TERMOSTAT
(Untuk memenuhi tugas mata kuliah Instrumentasi Fisika)

Oleh:
Lusiana Shinta Dewi (1213022034)
Putri Rahayu Wulan Sari (1213022057)
Sinta Alfionita (1213022070)

 

 

 

PENDIDIKAN FISIKA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2013

TERMOSTAT

A. Pengertian Termostat

Sebuah termostat adalah alat yang digunakan untuk mengendalikan kerja suatu perangkat lainnya pada suatu ambang suhu tertentu. Alat ini banyak digunakan pada elemen produksi pada industri maupun rumah tangga. Termostat berasal dari kata Yunani termos “panas” dan statos “berdiri”. Termostat bekerja dengan cara beralih dari pemanasan atau pendingin suatu alat atau mengatur aliran perpindahan panas fluida yang diperlukan, untuk menjaga suhu yang benar.
Sebuah termostat bisa menjadi pengontrol suatu unit untuk pemanas atau pendingin suatu kompon. Termostat bisa dibangun dalam banyak cara dan dapat menggunakan berbagai sensor untuk mengukur suhu. Output dari sensor kemudian mengontrol peralatan pemanas atau pendingin. . Thermostat dirancang untuk dapat menunjukkan besarnya suatu besaran suhu dalam skala pengukuran dan dapat mengendalikan suatu perangkat external dimana pengendaliannya dapat kita program pada suatu ambang suhu tertentu, sesuai dengan karakteristik kebutuhan serta karakteristik kerja alat yang akan dikendalikan.
Termostat pertama kali diciptakan pada tahun 1883 oleh Warren S. Johnson.

Thermostat dipasang pada blok silinder bagian atas dengan sambungan selang. Thermostat bekerja pada suhu yang kurang dari 80°C . dan pada suhu tersebut thermostat membuka, sehingga air hanya beredar disekeliling blok silinder tidak sampai ke radiator. Dengan demikian suhu mesin dapat dikendalikan dan ini merupakan fungsi thermostat sebagai pengendali suhu mesin.
Jenis thermostat yang digunakan salah satunya adalah tipe wax pellet. Tipe Wax Pellet ini adalah semacam lilin yang dapat mengembang pada saat panas dan akan menyusut pada waktu dingin.

Cara kerja :
Pada saat air pendingin panas lilin atau Wax Pellet yang ada didalam
thermostat akan memuai dan mendorong katup untuk membuka (1). Hal ini
disebabkan karena pemuaian lilin tersebut mampu menekan tahanan pegas (3),
thermostat pada saat temperatur air pendingin telah dingin, maka lilin di dalam
thermostat akan menyusut, sehingga pegas di dalam thermostat akan mendorong
katup thermostat untuk menutup kembali (2).

Keterangan :
1. Katup saat membuka
2. Katup saat menutup
3. Pegas

 

B. Macam -macam Termostat

Electric Thermostat

Electric Thermostat adalah thermosat yang digunakan pada system kontrol elektrik. Thermostat ini terdiri dari bimetal coil yang didesain sedemikian rupa sehingga bila ada perubahan suhu dapat menggerakkan bimetalnya (melengkung) dan kemudian gerakan bimetal ini digunakan untuk mengontrol mekanik membuka dan menutup kontak switch. Ada pula yang menggunakan bulb sebagai sensor suhu. Heating thermostat akan menbuka kontaknya bila suhu ruang naik, sedang cooling thermostat akan membuka kontak switch bila suhu ruang turun. Untuk membantu pergerakan bimetal yang lebih signifikan maka bimetalnya dilengkapi dengan sebuah electrik heater. Switch untuk thermostat yang bekerja pada tegangan rendah (24 volt) biasanya merupakan mercury switch.

Elemen deteksi suhu, jenis bimetal

Elemen deteksi suhu, mercury

 

Rangkaian kontrol thermostatic

Skematik Diagram Sistem Kontrol Elektrik

Gambar memperlihatkan skematik diagram tipikal sistem control elektrik yang menggunakan electric thermostat. Thermostat ini akan mengontrol penguatan relay atau solenoid yang digunakan untuk mengontrol sistem. Titik pengaturan suhu yang dilakukan thermostat dibedakan menjadi dua yaitu “Cut In” dan “Cut Out” temperature.

Konstruksi Tipikal Elektrik Thermostat

Kerja pengatur suhu (thermostat) dipengaruhi oleh perubahan suhu yang diterima oleh alat sensor suhu (bulb) gas akan mengembangnsebanding dengan suhunya. Perubahan suhu tersebut dapat menyebabkan gas, uap atau cairan di dalam pipa dan bulb mengembang atau menyusut, sehingga dapat menimbulkan tekanan pada bellow (diafragma) yang berubah-ubah. Perubahan tekanan di dalam bellow diubah menjadi gerakan linear untuk menggerakkan suatu kontak untuk membuka atau menutup. Di atas bellow ditempatkan pegas yang melawan tekanan bellow. Tekanan pegas dapat diatur melalui tombol yang ada di atasnya. Sehingga tekanan bellow pun akan mengikutinya yang berarti temperatur dari bulb yang dapat diatur.

Pnumatik Thermostat

Pnumatik thermostat juga menggunakan elemen bimetal sebagai sensor suhu. Pada desain lain kadang digunakan bulb yang berisi liquid refrigeran. Tenaga gerak yang ditimbulkan oleh elemen deteksinya digunakan untuk mengontrol port (katub) udara yang ada di dalam suatu sistem pemipaan udara tekan, sehingga udara tekan dari kompresor dapat mengalir secara proportional ke suatu alat aktuasi atau operator.

Electronic Thermostat
Electronic Thermostat menggunakan resistance thermometer untuk mendeteksi suhu. Resistance thermometer adalah elemen resistannyang sensitif terhadap perubahan suhu. Nilai resistannya akannberubah bila bila suhunya juga berubah. Elemen resistan tersebut dihubungkan ke salah satu kaki sirkit jembatan Wheat Stone.

Gambar memperlihatkan sirkit jembatan Wheat Stone. Jembatan Wheat Stone terdiri dari 4 resistor yang dihubungkan sedemikan sehingga membentuk sirkit jembatan.

Sirkit Jembatan Wheat Stone

Bila perbandingan keempat resistannya : A / B = C / D sama, maka tegangan outputnya menjadi nol. Dalam hal ini dikatakan jembatan dalam keadaan seimbang. Bila nilai resistan A (elemen resitance thermometer) berubah akibat ada perubahan suhu maka menyebabkan jembatan tidak seimbang lagi dan akan muncul sinyal tegangan pada output sirkit jembatannya. Tegangan sinyal output ini masih sangat lemah sehingga perlu mendapat penguatan (amplifier) terlebih dahulu sebelum ia dapat digunakan untuk menggerakkan suatu relay.

 

Blok Diagram tipikal electronic thermostat

C. Pengaturan Thermostat

Thermostat mempunyai batas cut in dan cut out tertentu. Perbedaan antara batas cut in dan cut out tergantung dari pengaturanndifferensialnya. Besar kecilnya differensial tergantung pada penggunaan dan lokasi alat sensor suhu (bulb).
Dalam banyak hal, bila bulb dijepitkan pada evaporator, sehingga temperatur pendinginan dideteksi secara langsung oleh temperaturevaporator, maka dalam kasus ini pengaturan differensial harus besar untuk menjaga adanya “Short Cycling” pada kopresor. Biasanya differensial diatur 8o – 10oC. Untuk kasus lain bisa 1o – 2oC atau 4o – 5oC, tergantung penempatan bulb.

Pengaturan thermostat ada 2 macam :
(I) pengaturan range
(II) pengaturan diferential.

 

 

Pengaturan Range

Mengatur range adalah cara pengaturan cut in dan cut out thermostat yang menghasilkan daerah pengaturan amplitudo. Cut on dan cut off akan kembali bersamaan tetapi dengan differensial yang tetap sama.

Biasanya pada baut pengaturan range ada petunjuk arah putaran baut pengatur range yang memberikan pengaturan sebagai berikut :
(i) Memutar baut searah jarum jam — suhu kerja naik
(ii) Memutar baut rangge melawan jarum jam — suhu kerja turun
(iii) Memutar baut range satu putaran akan mengubah suhu kerja antara 5o – 8oC

Pengaturan Diferential

Fungsi utama thermostat adalah menjalankan motor kompresor baiksuhu pendinginan meningkat (naik) pada batas tertentu. Batas ini disebut “Cut in” temperatur setting dan menghentikan motor kompresor saat suhu pendinginan mencapai titik terendah sesuai
pengaturannya titik suhu terendah ini disebut “Cut on” temperature setting. Mengatur differensial adalah mengatur kerja thermostat atau mengatur perbedaan titik cut in dan titik cut out. Perbedaan (differensial) ini tergantung pada aplikasi atau kondisi pendinginannya. Meskipun begitu perlu berhati-hati waktu melakukan pengaturan ini sebab bila perbedaan ini terlalu kecil maka sistemnya akan dapat mengalami “short cycle”.

Short cycle adalah selang waktu cut ini dan cut out yang sangat singkat sehingga kerja kompresor terputus-putus. Hal ini dapat membahayakan kompresor. Namun bila perbedaan ini terlalu besar maka temperatur pendinginan akan meningkat menjadi tinggi sebelum terjadi cut in. Hanya dengan banyak berlatih maka akan dapat menentukan differensial yang tepat sesuai keinginan pada setiap kondisi yang berbeda. Memutar baud differensial ke dalam, differensial makin kecil dan memutar baud differensial ke luar, differensial makin besar.

Thermostat diatur pada cut ini + 7oC dan 1oC cut out dengan differensial 6 K. Thermostat ini dapat diubah rangenya menjadi lebih tinggi atau lebih rendah sesuai keinginan kita, misalnya diubah menjadi + 10oC cut in dan + 4oC cut out tanpa merubah differensialnya.

 

 

Grafik Pengaturan Suhu

Berikut ini diberikan suatu contoh kasus dari suatu unit tata udara, sebagai berikut:

Dalam suatu ruangan khusus diharapkan mempunyai suhu yang konstan + 3oC dengan perbedaan suhu pada alat kontrolnya sebesar 4 K maka untuk memenuhi keperluan tersebut, thermostat harus diatur untuk :
cut in pada suhu + 5 oC dan cut out pada suhu 1 oC.

Penentuan setting thermostat dilakukan dengan terlebih dahulu menentukan temperatur rata-rata yang harus dipertahankan tetap konstan dan juga keinginan atau keperluan untuk mempunyai temperatur maksimum dan minimum yang dikehendaki. Bila hal ini sudah didapatkan maka differensial dapat dihitung. Sebaliknya bila differensialnya yang diketahui, maka untuk menghitung setting thermostatnya (cut in) dapat dilakukan dengan membagi dua nilai differensial tersebut dan kemudian menambahkannya dengan temperatur rata-rata yang diinginkan dan kemudian mengkurangkannya untuk menentukan cut out temperaturnya.

Grafik pengaturan Suhu

D. Pemilihan Thermostat

Pemilihan Thermostat hendaknya memperhatikan faktor-faktor berikut ini:
(i) Temperatur maksimum dan minimum yang dapat dicapai
(ii) Jenis medium pendinginan misalnya udara, air, minuman
(iii) Differensial yang dibutuhkan.

Bila ketiga faktor ini sudah diketahui maka tinggal mencari spesifikasi yang sesuai di dalam katalog yang ada. Pilihlah thermostat yang karakteristik pengaturan temperaturnya mendekati kondisi temperature yang diharapkan.

Misalnya, Sebuah ruangan ingin dipertahankan mempunyai suhu 3oC.
Dimana :
cut in thermostat = 4oC
cut out thermostat = -6oC
differensial = 10 K

maka pilihlah thermostat yang ada dikatalog yang mendekati harga-harga
tersebut diatasi yaitu : thermostat RT2.
Range = -25oC + 15oC
Diff = 5 K sampai 18 K

E. Pemasangan Thermostat

Ada 2 hal yang perlu diperhatikan dalam pemasangan thermostat, yaitu pemasangan thermo switchnya dan pemasangan sensor suhunya. Pada prinsipnya pemasangan thermoswitchnya dapat diletakkan di mana saja asal memudahkan operator untuk mencapainya. Kontak thermo switch-nya terdiri dari kontak NO (normally open) dan NC (normally closed). Untuk keperluan control operasi biasanya digunakan kontak NO. Sensor thermonya diletakkan di dalam ruang cabinet dengan ketinggian 1 atau 1,5 meter. Usahakan meletakkannya pada lokasi di mana produk yang disimpan diletakkan.

F. Contoh Penggunaan Termostat Dalam kehidupan Sehari-hari

SISTEM pendinginan memiliki peranan amat vital dalam menjaga kinerja mesin agar tetap dalam kondisi stabil. Kinerja mesin paling efisien dan efektif terjadi pada suhu antara 82 hingga 93 derajat celcius. Pada suhu tersebut, proses pembakaran campuran BBM dengan udara berlangsung mendekati sempurna, sehingga seluruh energi kimia dari minyak bumi bisa dikonversikan menjadi gerak mekanik untuk mendorong mobil.
Suhu mesin yang terlalu dingin akan menyebabkan konsumsi bensin menjadi boros. Sebaliknya, suhu tinggi membuat kepala silinder mesin melengkung. Di sinilah peranti termostat memiliki peranan penting agar mesin tidak overheated dan cepat mencapai suhu optimum.
Termostat memiliki fungsi untuk menjaga kestabilan suhu mesin. Tugasnya adalah menutup dan membuka sirkulasi aliran air pendingin mesin yang menuju radiator. Posisi alat ini berada antara mesin dan selang radiator. Ketika suhu mesin mobil berada di bawah angka ideal, termostat akan menahan aliran air dari mesin menuju radiator. Saat itu, aliran air akan berputar di dalam blok mesin saja. Pada suhu air mencapai antara 82 derajat hingga 93 derajat, katup termostat otomatis akan terbuka kecil.

Begitu pula bila suhu meningkat di atas 93 derajat dan mesin menjadi panas, termostat akan membuka katupnya lebar-lebar. Air panas pun mengalir masuk ke radiator untuk didinginkan. Selanjutnya air dari radiator yang telah dingin disalurkan oleh water pump menuju blok mesin. Katup termostat akan terus membuka selama mesin panas, dan menutup kembali saat suhu mesin berubah dingin.
Mengingat pentingnya peranti termostat tersebut, diharapkan jangan mencopot alat ini. Kalau pemilik kendaraan mencopot termostat, efek yang terbesar adalah mesin lambat menjadi panas. Suhu ideal mesin akan lebih lama tercapai.
Anggapan bahwa mencopot termostat akan mempercepat menurunkan suhu ketika mesin panas, tidaklah tepat. Termostat akan langsung bereaksi saat mendeteksi suhu air melebihi dari suhu ideal tadi.
Efek lainnya bila termostat itu dilepas, maka sirkulasi air pendingin tidak ada yang mengatur lagi. Hasilnya saat mesin dingin, air tetap bersirkulasi dan berputar menuju radiator. Imbasnya, mesin jadi lebih lama untuk mencapai suhu kerja yang ideal. Seiring dengan itu mesin pun kurang optimal dan cenderung boros bahan bakar.
Tidak adanya termostat juga membuat kerja ECU (Engine Control Unit) jadi ngaco. Data sensor yang tidak akurat akan membuat ECU memerintahkan pasokan campuran bahan bakar udara yang keliru.
Karena termostat dicabut sirkulir air terus berjalan baik ketika suhu panas maupun dingin. Itu menjadikan data besaran suhu ke ECU tidak akurat lagi. Maka ECU pun akan memberikan instruksi yang tidak benar pada penyaluran campuran bahan bakar. Bila itu terjadi tentu pemakaian BBM pun tidak ekonomis.

Sensor Electronic
Termostat adalah benda yang mengagumkan karena bentuknya yang kecil, tetapi memiliki peranan penting. Rahasia kerja termostat terletak pada silinder kecil dekat mesin. Silinder ini berisi wax atau semacan lilin, yang mengembang kalau terkena panas. Ketika wax mengembang, batang dalam silinder akan bergerak menekan katup termostat untuk membuka. Untuk melihat cara kerja termostat, bisa dilakukan dengan cara mencelupkan peranti ini pada baskom yang berisi air panas.
Teknologi termostat terus berkembang. Malahan kini sudah menginjak ke sistem elektronik yang menggantikan teknik buka katup mekanis. Pada prinsipnya kerja sistem ini masih sama dengan model mekanis, hanya bedanya sistem buka tutup diatur oleh sensor elektronik
Katup elektronik ini diklaim lebih unggul, karena dapat membuka dengan besaran yang presisi dibandingkan teknologi konvensional. Katup tidak akan membuka kalau suhu belum tepat benar menyentuh angka 82 derajat celcius. Ford memasang teknologi elektronik ini pada model sedan Mondeo. Katup termostat akan membuka atau menutup untuk mendinginkan blok dan kepala silinder berdasarkan perintah sensor panas mesin. Peranti ini dirasakan cukup efektif guna meredam panas mesin untuk mendapatkan setelan pemakaian bahan bakar yang efisien.
Pabrikan komponen Bosch mengembangkan teknologi baru yang menggantikan termostat tunggal dengan sistem katup-katup elektronik yang menyeluruh. Ini akan membuat kontrol suhu mesin lebih akurat yang mendorong performa mesin meningkat.
Disebut menyeluruh karena kerja katup mekanis yang ada dalam sistem pendingin digantikan oleh elektronik. Katup termostat dikombinasikan dengan water pump elektrik yang memakai listrik sebesar 12 volt. Seluruh sistem Bosch ini dikendalikan oleh sistem manajemen mesin keluaran Motronic.

Perhatikan Kondisi Termostat
Sama dengan komponen mobil lainnya, termostat mempunyai umur masa pakai yang terbatas. Sebaiknya gantilah peranti termostat sebelum rusak, disarankan setiap 50.000 km. Termostat yang sudah rusak tidak bisa diperbaiki, jadi harus membeli yang baru.
Salah satu kondisi yang membuat termostat tidak dapat bekerja dengan baik adalah karat. Karat pada dinding-dinding termostat harus dihindari. Penyebabnya karena komponen ini sebagian besar memakai bahan besi. Potensi terjadinya karat semakin membesar, bila air di radiator/ pendingin kotor. Itu sebabnya, penggantian secara berkala dengan air yang steril, dapat meminimalisasi munculnya karat. Lakukanlah pengurasan air radiator minimal 20.000 km.
Untuk mengetahui kondisi termostat, mau tidak mau harus membuka dudukan alat tersebut. Bila diketahui karat pada termostat sudah telanjur menempel dan banyak, maka peranti termostat harus diganti yang baru. Pasalnya, tumpukan karat pada dinding termostat bisa membuat komponen katup tidak bekerja dan macet. Kalau macet, maka termostat tidak dapat menjalankan fungsi buka-tutup aliran air dari radiator ke mesin. Terhambatnya mekanisme buka tutup katup bisa membuat termostat selalu terbuka, atau sebaliknya, tertutup terus.
Jika terbuka, aliran air antara mesin dan radiator akan terus-menerus mengalir. Situasi ini bisa membuat mesin overcooling yang dampaknya membuat temperatur kerja mesin sulit tercapai. Sebaliknya, bila kondisi tertutup membuat aliran air antara mesin dan radiator akan terhalang. Akibatnya, pada saat air pendingin telah mencapai temperatur kerja dan mendekati titik didih, tidak dapat bertukar dengan air yang dingin. Karena tidak mendapat pendinginan, bisa terjadi overheating.
Untuk mengetahui apakah termostat masih bekerja baik, bisa dilakukan dengan cara mencelupkannya ke wadah yang berisi air panas. Sebelum memasukkan termostat, terlebih dahulu lihat tanda pada bagian atas termostat. Biasanya pada bagian ini akan tertera suhu minimal saat katup termostat membuka atau menutup. Misalnya tertulis 92 derajat celcius. Itu artinya katup akan tertutup hingga suhu tersebut. Di atas suhu itu, katup akan membuka agar air yang panas dapat bersirkulasi ke dalam radiator.
Usahakan air panas yang berada dalam baskom berada di atas suhu yang tertulis di termostat, umumnya di atas 100 derajat celcius. Untuk mengetahui suhu tersebut, bisa memakai bantuan alat termometer atau pengukur suhu badan. Prosedur pengujian dilakukan dengan cara memasukkan termostat dan termometer ke dalam air. Kemudian lihat reaksi termostat. Jika dalam suhu tinggi, katup tidak bereaksi, maka termostat sudah rusak.

DAFTAR PUSTAKA

http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/pengantar_sistem_informasi/bab8-konsep_sistem_dan_sistem_informasi.pdf
http://www.ilmuku.com/file.php/1/Pustaka/Buku_Diknas/SMK/Teknologi_dan_Industri/sistem-refrigerasi-dan-tata-udara_2_.pdf
http://kuncikontak.com/fungsi-thermostat/
http://library.gunadarma.ac.id/10499419-skripsi_fti.pdf
http://smpn1bwi.com/index2.php?option=com_docman&task=doc_view&gid=85&Itemid=28
http://www.cassanova-id.com/forum/showthread.php?t=2202
http://www.howeverythingworks.org/supplements/thermometers_and_thermostats.pdf
http://www.pikiran-rakyat.co.id/cetak/2006/042006/28/otokir/utama01.htm

 

 

MAKALAH TERMOCOUPLE

Posted: March 25, 2014 in Uncategorized

 

 

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Temperatur suatu benda atau lingkungan dapat diukur dengan thermometer. Namun ketika thermometer mempunyai keterbatasan pembacaan. Thermometer hanya mampu mengukur hingga suhu 100°C. Dalam perindustrian, pengukuran suhu untuk peleburan timah atau apapun memerlukan alat untuk mengukur suhu dan thermometer tidak dapat digunakan karena hanya mempunyai rentang 0°C – 100°C. Suhu merupakan salah satu parameter yang penting untuk diukur dalam rangka menentukan kehilangan atau membuat keseimbangan energi panas. Oleh karena itu mereka menggunakan thermocouple untuk mengukur suhu karena memiliki ketepatan yang tinggi.

Pada tahun 1821, seorang fisikawan Estonia bernama Thomas Johann Seebeck menemukan bahwa sebuah konduktor (semacam logam) yang diberi perbedaan panas secara gradien akan menghasilkan tegangan listrik. Hal ini disebut sebagai efek termoelektrik. Konduktor tambahan ini kemudian akan mengalami gradiasi suhu, dan mengalami perubahan tegangan secara berkebalikan dengan perbedaan temperatur benda. Menggunakan logam yang berbeda untuk melengkapi sirkuit akan menghasilkan tegangan yang berbeda, meninggalkan perbedaan kecil tegangan memungkinkan kita melakukan pengukuran, yang bertambah sesuai temperatur. Perbedaan ini umumnya berkisar antara 1 hingga 70 microvolt tiap derajad celcius untuk kisaran yang dihasilkan kombinasi logam modern. Beberapa kombinasi menjadi populer sebagai standar industri, dilihat dari biaya, ketersediaanya, kemudahan, titik lebur, kemampuan kimia, stabilitas, dan hasil. Sangat penting diingat bahwa termokopel mengukur perbedaan temperatur di antara 2 titik, bukan temperatur absolut.
Oleh karena itu, untuk lebih jelasnya akan dipaparkanan beberapa hal yang berhubungan dengan Thermocouple,seperti: Pengertian dan tipe-tipe thermocouple, Penggunaan thermocouple, Prinsip kerja thermocouple, Pembacaan hasil pengukuran thermocouple, Kalibrasi thermocouple dan ketelitiannya.

B. Tujuan
1. Untuk mengenal salah satu ukur fisika yaitu Thermocouple
2. Untuk mengetahui bagian-bagian alat ukur Thermocouple
3. Untuk mengetahui fungsi alat ukur Thermocouple
4. Untuk mengetahui kegunaan bagian-bagian alat ukur Thermocouple
5. Untuk memahami cara kerja alat ukur Thermocouple

C. Rumusan Masalah
1. Apa fungsi alat ukur Thermocouple
2. Apa saja bagian-bagian alat ukur Thermocouple
3. Apa kegunaan bagian-bagian dari alat ukur Thermocouple
4. Bagaimana cara kerja alat ukur Thermocouple

 

 

 

 

 

 

 

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Thermocouple
Thermocouple adalah sensor suhu yang banyak digunakan untuk mengubah perbedaan suhu dalam benda menjadi perubahan tegangan listrik (voltase). Thermocouple yang sederhana dapat dipasang, dan memiliki jenis konektor standar yang sama, serta dapat mengukur temperatur dalam jangkauan suhu yang cukup besar dengan batas kesalahan pengukuran kurang dari 1 °C.
B. Fungsi Thermocouple
Thermocouple merupakan sensor yang mengubah besaran suhu menjadi tegangan, dimana sensor ini dibuat dari sambungan dua bahan metallic yang berlainan jenis. Sambungan ini dikomposisikan dengan campuran kimia tertentu, sehingga dihasilkan beda potensial antar sambungan yang akan berubah terhadap suhu yang dideteksi.

C. Tipe-Tipe Termokopel
Tersedia beberapa jenis termokopel, tergantung aplikasi penggunaannya
• Tipe K (Chromel (Ni-Cr alloy) / Alumel (Ni-Al alloy))
Termokopel untuk tujuan umum. Lebih murah. Tersedia untuk rentang suhu −200 °C hingga +1200 °C.
• Tipe E (Chromel / Constantan (Cu-Ni alloy))
Tipe E memiliki output yang besar (68 µV/°C) membuatnya cocok digunakan pada temperatur rendah. Properti lainnya tipe E adalah tipe non magnetik.
• Tipe J (Iron / Constantan)
Rentangnya terbatas (−40 hingga +750 °C) membuatnya kurang populer dibanding tipe K. Tipe J memiliki sensitivitas sekitar ~52 µV/°C
• Tipe N (Nicrosil (Ni-Cr-Si alloy) / Nisil (Ni-Si alloy))
Stabil dan tahanan yang tinggi terhadap oksidasi membuat tipe N cocok untuk pengukuran suhu yang tinggi tanpa platinum. Dapat mengukur suhu di atas 1200 °C. Sensitifitasnya sekitar 39 µV/°C pada 900°C, sedikit di bawah tipe K. Tipe N merupakan perbaikan tipe K

Termokopel tipe B, R, dan S adalah termokopel logam mulia yang memiliki karakteristik yang hampir sama. Mereka adalah termokopel yang paling stabil, tetapi karena sensitifitasnya rendah (sekitar 10 µV/°C) mereka biasanya hanya digunakan untuk mengukur temperatur tinggi (>300 °C).
• Type B (Platinum-Rhodium/Pt-Rh)
Cocok mengukur suhu di atas 1800 °C. Tipe B memberi output yang sama pada suhu 0°C hingga 42°C sehingga tidak dapat dipakai di bawah suhu 50°C.
• Type R (Platinum /Platinum with 7% Rhodium)
Cocok mengukur suhu di atas 1600 °C. sensitivitas rendah (10 µV/°C) dan biaya tinggi membuat mereka tidak cocok dipakai untuk tujuan umum.
• Type S (Platinum /Platinum with 10% Rhodium)
Cocok mengukur suhu di atas 1600 °C. sensitivitas rendah (10 µV/°C) dan biaya tinggi membuat mereka tidak cocok dipakai untuk tujuan umum. Karena stabilitasnya yang tinggi Tipe S digunakan untuk standar pengukuran titik leleh emas (1064.43 °C).
• Type T (Copper / Constantan)
Cocok untuk pengukuran antara −200 to 350 °C. Konduktor positif terbuat dari tembaga, dan yang negatif terbuat dari constantan. Sering dipakai sebagai alat pengukur alternatif sejak penelitian kawat tembaga. Type T memiliki sensitifitas ~43 µV/°C.

D. Bagian-Bagian Thermocouple
1. General Purpose Rope

 

• Jack : Menghubungkan antara General Purpose Robe dengan thermocouple.
• Stick : Yang terdiri dari 2 buah logam, sebagai variabel pendeteksi suhu.
• Pemegang : Tempat dimana tangan saat melakukan pengukuran.
2. Thermocouple

• Display : Sebagai penunjuk hasil pengukuran.
• Kenop : Sebagai pemutar ON atau OFF.

 

E. Prinsip Kerja Termokopel

Thermocouple suatu rangkaian yang tersusun dari dua buah logam yang masing-masing mempunyai koefisien muai panjang berbeda yang dihubungkan satu dengan yang lain pada ujung-ujungnya. Jika pada kedua titik hubung kedua logam tersebut mempunyai perbedaan temperature, maka timbullah beda potensial yang memungkinkan adanya arus listrik di dalamnya.

Termokopel secara sederhana merupakan perpaduan antara dua logam yang berbeda jenis, yang persambungan (kopel) kedua logam diberikan pengkondisian suhu yang berbeda (panas dan dingin). Setting alat untuk melakukan kalibrasi termokopel yaitu, misal kita sebut saja logam A dan logam B merupakan bahan logam pada termokopel. Ujung logam A dan B disambung dan ujung-ujung yang lain dihubungkan ke alat ukur listrik dan dimasukkan ke dalam kondisi suhu dingin, dan untuk ujung yang dikopel ditempatkan pada kondisi suhu panas.. Jadi, nilai tegangan itu setara dengan suhu yang terukur oleh termometer, sehingga didapatkan nilai tegangan sekian = suhu sekian,
Untuk memahami bagaimana sebuah sambungan logam pada termokopel dapat menimbulkan tegangan listrik kita bisa meninjaunya dari sisi pergerakan atom-atom logam yang digunakan pada termokopel. Suatu logam apabila dipanaskan maka akan mengalami pemuaian, baik memuai panjang maupun memuai lebar (volum). Pemuaian ini diakibatkan oleh pergerakan atom-atom atau elektron dari suhu tinggi menuju ke suhu yang lebih rendah. Pergerakan ini banyak sedikitnya atau cepat lambatnya tergantung pada bahan logam itu sendiri, artinya logam satu dengan logam lainnya memiliki kecepatan muai yang berbeda-beda. Hal ini dapat kita amati pada bimetal (dua keping logam yang dipadu), ketika bimetal ini dipanaskan maka yang tadinya lurus akan membengkok kearah logam yang pemuaiannya lebih lambat. Jadi, pada logam termokopel yang berbeda jenis akan memiliki kecepatan alir elektron yang berbeda pula, hal inilah yang kemudian menyebabkan beda potensial di ujung-ujung logam tersebut, yang mana telah dihubungkan ke alat ukur listrik sehingga timbul tegangan listrik di ujung-ujung logam tersebut. Termocouple banyak digunakan sebagai alat ukur suhu di dunia industri, salah satu keuntungannya yaitu mampu mengukur suhu yang sangat tinggi dan juga suhu rendah.
Termokopel merupakan sebuah alat yang biasa digunakan untuk mengukur suhu yang pada umumnya sebagai termometer digital, karena termokopel memiliki output berupa arus listrik sehingga pengkonversiannya dapat secara digital. Pada banyak aplikasi, salah satu sambungan-sambungan yang dingin dijaga sebagai temperatur referensi, sedang yang lain dihubungkan pada objek pengukuran. Contoh, hubungan dingin akan ditempatkan pada tembaga pada papan sirkuit. Sensor suhu yang lain akan mengukur suhu pada titik ini, sehingga suhu pada ujung benda yang diperiksa dapat dihitung.

Thermocouple dapat dihubungkan secara seri satu sama lain untuk membuat termopile, dimana tiap sambungan yang panas diarahkan ke suhu yang lebih tinggi dan semua sambungan dingin ke suhu yang lebih rendah. Dengan begitu, tegangan pada setiap Thermocouple menjadi naik, yang memungkinkan untuk digunakan pada tegangan yang lebih tinggi. Dengan adanya suhu tetapan pada sambungan dingin, yang berguna untuk pengukuran di laboratorium, Secara sederhana Thermocouple tidak mudah dipakai untuk kebanyakan indikasi sambungan lansung dan instrumen kontrol. Mereka menambahkan sambungan dingin tiruan ke sirkuit mereka yaitu peralatan lain yang sensitif terhadap suhu (seperti termistor atau dioda) untuk mengukur suhu sambungan input pada peralatan, dengan tujuan khusus untuk mengurangi gradiasi suhu di antara ujung-ujungnya.
Thermocouple mengukur perbedaan temperature diantara kedua kaki, bukan temperatur absolute.

 

Ketika terkena panas maka bimetal akan bengkok kearah yang koefisiennya lebih kecil. Pemuaian ini kemudian dihubungkan dengan jarum dan menunjukkan angka tertentu. Angka yang ditunjukkan jarum ini menunjukkan suhu benda (pada Thermocouple digital). Termokopel ini macam-macam, tergantung jenis logam yang digunakan. Jenis logam akan menentukan rentang temperatur yang bisa diukur (termokopel suhu badan (temperatur rendah) berbeda dengan termokopel untuk mengukur temperatur tungku bakar (temperatur tinggi), juga sensitivitasnya.
Konfigurasi alat ukur dengan thermocouple ditunjukkan pada gambar

Terdapat sebuah kawat pemanas lurus yang dibuat dari bahan yang mempunyai nilai tahanan yang cukup tinggi. Pada tengah-tengah kawat pemanas tersebut dihubungkan dengan salah satu titik hubung dari thermocouple. Kedua ujung bebas thermocouple masing-masing dihubungkan dengan pengukur milivolt yang akan mengukur beda tegangan yang dihasilkan oleh kedua ujung thermocouple tersebut. Jika arus I dialirkan melalui kawat pemanas maka kawat pemanas akan membangkitkan panas dengan besar daya berbanding dengan arus kuadratnya. Panas yang dibangkitkan ini menaikkan panas pada tengah kawat pemanas dari ke .
Dibawah ini merupakan contoh pasangan logam yang digunakan untuk pembuatan thermocouple:

F. Kalibrasi Thermocouple
Tidak ada kalibrasi pada alat ini, namun sebelum penggunaan pastikan kedua kaki pada alat ini berbeda jenisnya (misalnya kromium dengan aluminium). kromium sebagai kaki dingin, sedangkan aluminium sebagai kaki panas.
G. Ketelitian Thermocouple
Ketelitian dari Thermocouple bergantung pada tipe thermocouple yang digunakan dan biasanya terdapat petunjuk penggunaan.

H. Cara Penggunaan Thermocouple
Memasang baterai 9 volt,kemudian menghubungkan probe dengan konektor pada bagian atas. Lalu putar posisi ke ⁰C atau ⁰F (tergantung tipe). jika tidak ada probe terpasang, atau jika membaca over-range, layar menampilkan berkedip strip. jika pengukuran adalah sedikit di atas rentang spesifikasi meter, layar berkedip nilai skala penuh terdekat. untuk mematikan termometer, putar kenop ke OFF.
I. Pembacaan Hasil Pengukuran
• Pada Thermocouple digital, angka hasil pengukuran langsung terlihat.
• Pada Thermocouple analog, menggunakan rumus:

V = perubahan tegangan (Volt)
S = koefisien seebeck (40 mV/ )
T = perubahan suhu ( )

J. Contoh Penggunaan Thermocouple
Termokopel paling cocok digunakan untuk mengukur rentangan suhu yang luas, hingga 1800 K. Sebaliknya, kurang cocok untuk pengukuran dimana perbedaan suhu yang kecil harus diukur dengan akurasi tingkat tinggi, contohnya rentang suhu 0–100 °C dengan keakuratan 0.1 °C. Untuk aplikasi ini, Termistor dan RTD lebih cocok. Contoh Penggunaan Termokopel yang umum antara lain :
• Industri besi dan baja
• Pengaman pada alat-alat pemanas
• Untuk termopile sensor radiasi
• Pembangkit listrik tenaga panas radioisotop
Thermocouple banyak digunakan sebagai alat ukur suhu di dunia industri, salah satu keuntungannya yaitu mampu mengukur suhu yang sangat tinggi dan juga suhu rendah.

K. Kelebihan dan Kelemahan Thermocouple
Kelemahan: Termokopel tidak dapat mengukur suhu awal dari suatu termometer pada suhu awal dari suatu termometer pada umumnya karena alat ini tidak dapat dikalibrasi. Sehinnga ketika termokopel pada posisi ON, langsung muncul suhu ruangan.
Kelebihan : Termokopel paling cocok digunakan untuk mampu mengukur suhu yang sangat tinggi dan juga suhu rendah dari -200 hingga 1800⁰C.

 

 

 

 

 

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari pembahasan dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut:

1. Thermocouple adalah suatu rangkaian yang tersusun dari dua buah logam yang masing-masing mempunyai koefisien muai panjang berbeda yang dihubungkan satu denngan yang lain pada ujung-ujungnya
2. Thermocouple banyak digunakan untuk mengubah perbedaan panas dalam benda yang diukur temperaturnya menjadi perubahan potensial/tegangan listrik (voltase).
3. Terdapat berbagai tipe dari thermocouple, antara lain tipe K, tipe J, tipe N, tipe E, tipe B, tipe R, tipe S dan tipe T.
4. Penggunaan thermocouple antara lain Industri besi dan baja; Pengaman pada alat-alat pemanas; Untuk termopile sensor radiasi; Pembangkit listrik tenaga panas radioisotop.
5. Thermocouple banyak digunakan sebagai alat ukur suhu di dunia industri, salah satu keuntungannya yaitu mampu mengukur suhu yang sangat tinggi dan juga suhu rendah.
6. Ketelitian dari thermocouple bergantung pada tipe thermocouple yang digunakan.

 

 

PENGUAT COMMON EMITER

Posted: March 25, 2014 in Uncategorized

Nama Kelompok:
Anggota : 1. Adelia Aris Setiawati (1113022005)
2. Isti Khoiriyah (1113022059)
3. Puspita Indah Rahayu (1113022067)

PENGUAT COMMON EMITER
(Praktikum Elektronika Dasar II)

No Langkah Manual Langkah/prosedur dalam IC serta gambar hasil Deskripsi perbandingan enyelesaian manual dengan penyelesaian menggunakan IC
1 2 3 4
1 Titik kerja Q diselesaikan dengan analisis DC.
dalam melaksanakan analisis DC, komponen kapasitor dihilangkan. Beban pada output rangkaian juga dihilangkan, sehingga diperoleh rumus
V_in=I_i.R_in(base) =V_B
=I_b.R_(in(base))→I_b=V_B/R_(in(base))
R_(in(base))=β_DC.R_E=150.560=84 kΩ
V_B=V_R2=I_(R1.R2).R_2=V_CC/(R1+R2)∙R2= 12/(22k+4,7k)∙4,7k=56,4/26,7=2,11 V
(VCC, R1, R2 satu rangkaian tertutup dengan arus V_CC/(R1+R2))
V_B=V_BE+V_RE=0,7 volt+I_E∙R_E
I_E=(V_B-V_BE)/R_E =(2,11-0,7)/560=1,41/560=2,5 mA
Dapat dipakai IE ≈ IC
V_CC=V_CC-I_C∙R_C-I_E∙R_E=V_CC-I_E (R_C+R_E )
V_CC=12-2,5 mA(1 k∙560)=12 V-(2,5 mA∙1,56 kΩ)=12 V-3,9 V=8,1 Volt
Garis kerja titik (VCE, 0)
V_CE=V_CC-I_E (R_C+R_E )→I_E=0
VCC = VCE = 12 Volt, titik potong pada sumbu VCE pada (12 Volt; 0)
V_CC-I_E (R_C+R_E )=0

12-I_E (1,56)→I_E=(12 Volt)/(1,56 kΩ)=7,69 mA
Titik potong dengan sumbu IE pada (0;769 mA)
Titik Q diselesaikan dengan analisis DC
Langkah pertama yaitu menyiapkan alat dan bahan yang terdiri dari :
1. 4 buah resistor dengan hambatan, yaitu:
R1 = 22 kΩ RE = 1 kΩ
R2 = 4,7 kΩ RC = 560 Ω

 

2. Transistor n-p-n dengan ketentuan sebagai berikut:

3. Amperemeter dan Voltmeter untuk mengukur VCE dan Ic

 

4. Sumber tegangan (Vcc) sebesar 12 Volt

5. Sinyal masukan ac

Kemudian alat dan bahan tersebut dirangkai seperti rangkaian di bawah ini

Kemudian rangkaian tersebut disimulasikan dengan mengklik ‘transient’ sehingga diperoleh hasil sebagai berikut :

 

 

Jadi dapat dilihat bahwa V1 = VCE sebesar 8,09Volt dan A1 = IC sebesar 2,50A. Sehingga titik kerjanya adalah Q (VCE , IC ) = (8,09V, 2,50A)
2 Penguatan :
Caranya :
C1 hubung singkatkan
VCC ground-kan
C1 hubung singkatkan
C3 buang/hilangkan
Analisis penguatan tegangan

A_v=V_e/V_b →(V_e=I_e∙∝_ac∙R_C)/(V_b=I_e (r_e+R_E))→∝_ac≈1

A_v=(α_ac∙R_C)/(r_e+R_E )=R_C/(r_e+R_E )

Jika rs diperhitungkan V_b/V_in =R_in/(R_s+R_in )

Penguatan tegangan total =A^’=A_V (V_b/V_in )
Jadi :
r_e=(25 mV)/I_E =(25 mV)/(2,5 mA)=10Ω
r_s=300 Ω
R_(in(base))=β_DC (r_e+R_E )=160(10 Ω+560)=160 ×570=91,2 kΩ

R_in=R_1//R_2//R_in(base) =(R_1∙R_2∙R_in(base) )/(R_1+R_2+R_in(base) )=(22 k∙4,7 k∙91,2 k)/(22 k∙4,7 k+22 k∙91,2 k+4,7 k∙91,2 k)=3,7 kΩ
V_B=R_in/(R_in+R_s )∙V_in=(3,7 kΩ)/((3,7+0,3))∙10 mV=3,7/4=37/4 mV=9,25 mV

A_v=R_C/(r_e+R_E )=(1 kΩ)/(10 Ω+560 Ω)=1000/570=1,75

A^’=A_V∙V_b/V_in =1,75∙9,25/10=1,75×0,925=1,6 Analisis penguatan tegangan dengan menggunakan analisis ac
Langkah pertama yaitu menyiapkan alat dan bahan yang terdiri dari :
1. 4 buah resistor dengan hambatan, yaitu:
R1 = 22 kΩ RC = 1 kΩ RS = 300 Ω
R2 = 4,7 kΩ RE = 560 Ω

 

2. Transistor n-p-n dengan ketentuan sebagai berikut:

3. Voltmeter untuk mengukur VB (tegangan pada basis)

 

4. Sumber tegangan (Vin) sebesar 10 mV

Kemudian alat dan bahan tersebut dirangkai seperti rangkaian di bawah ini

Kemudian rangkaian tersebut disimulasikan dengan mengklik ‘transient’ sehingga diperoleh hasil sebagai berikut :

 

Jadi, dari hasil simulasi tersebut dapat dilihat bahwa tegangan pada basis VB = 9,28 mV.
3 Penguatan arus adalah A_i=I_C/I_b →β_DC=160

R_in=R_1//R_2//R_in(base) =(R_1∙R_2∙R_in(base) )/(R_1+R_2+R_in(base) )=(22 k∙4,7 k∙91,2 k)/(22 k∙4,7 k+22 k∙91,2 k+4,7 k∙91,2 k)=3,7 kΩ

I_in=V_in/(R_s+R_in )

A_i’=I_c/I_in Analisis penguatan arus dengan menggunakan analisis ac
Langkah pertama yaitu menyiapkan alat dan bahan yang terdiri dari :
1. 4 buah resistor dengan hambatan, yaitu:
R1 = 22 kΩ RC = 1 kΩ RS = 300 Ω
R2 = 4,7 kΩ RE = 560 Ω

 

2. Transistor n-p-n dengan ketentuan sebagai berikut:

3. Dua buah amperemeter untuk mengukur arus pada basis (IB) dan arus pada collector (IC)

4. Sumber tegangan (Vin) sebesar 10 mV

Kemudian alat dan bahan tersebut dirangkai seperti rangkaian di bawah ini:

Kemudian rangkaian tersebut disimulasikan dengan mengklik ‘transient’ sehingga diperoleh hasil sebagai berikut :

 

Jadi, dari hasil simulasi tersebut dapat dilihat bahwa tegangan pada basis IB = 37,35 mA dan IC = 37,28 mA. sehingga penguatannya sebesar
Ai = Ic / IB
Ai = 37,35 mA /37,28 mA
Ai = 1,002 mA
4 Penguatan daya
A_p=A_V∙A_i=1,75∙160=280 Watt

 

CONTOH RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)

Satuan Pendidikan : SMA
Kelas/Semester : X/2
Mata Pelajaran : Fisika
Topik : Elastisitas
Waktu : 1 × 15 menit

A. Kompetensi Inti SMA kelas X:
1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya
2. Mengembangkan perilaku (jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong, kerjasama, cinta damai, responsif dan proaktif) dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia
3. Memahami,menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural berdasarkan rasa ingintahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.
4. Mengolah, menalar, menyaji, dan mencipta dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan.

 

B. Kompetensi Dasar
2.1 Menunjukkan perilaku ilmiah (memiliki rasa ingin tahu; objektif; jujur; teliti; cermat; tekun; hati-hati; bertanggung jawab; terbuka; kritis; kreatif; inovatif dan peduli lingkungan) dalam aktivitas sehari-hari sebagai wujud implementasi sikap dalam melakukan percobaan dan berdiskusi
3.6 Menganalisis sifat elastisitas bahan dalam kehidupan sehari hari
4.6 Mengolah dan menganalisis hasil percobaan tentang sifat elastisitas suatu bahan

C. Indikator Pencapaian Kompetensi
1. Kognitif
• Produk
1.1 Menganalisis contoh penggunaan Hukum Hooke dalam kehidupan sehari-hari
• Proses
1.1 Membuat grafik pertambahan panjang panjang pegas dengan pertambahan beban
1.2 Menentukan hubungan antara pertambahan panjang benda elastis dengan pertambahan beban yang diberikan
1.3 Menentukan nilai konstanta kekakuan benda elastis
1.4 Memformulasikan persamaan Hukum Hooke

2. Afektif
2.1 Karakter: bekerja teliti, jujur, bertanggung jawab, peduli, dan berperilaku santun
2.2 Keterampilan sosial: bekerjasama, menyampaikan pendapat, bertanya, menjadi pendengar yang baik, dan menanggapi pendapat orang lain

3. Psikomotor
3.1 Mengukur panjang benda elastis sebelum dan sesudah digantungi beban

D. Tujuan Pembelajaran:
1. Kognitif
• Produk
1.1 Setelah dilakukan percobaan mengenai Hukum Hooke, siswa mampu menyebutkan contoh penggunaaan Hukum Hooke dalam kehidupan sehari-hari dengan tepat.

• Proses
Setelah dilakukan percobaan mengenai Hukum Hooke dan mengisi LKS, siswa dapat:
1.5 Membuat grafik pertambahan panjang panjang pegas dengan pertambahan beban
1.6 Menentukan hubungan antara pertambahan panjang benda elastis dengan pertambahan beban yang diberikan
1.7 Menentukan nilai konstanta kekakuan benda elastis
1.8 Memformulasikan persamaan hukum hooke

2. Afektif
2.1 Karakter: bekerja teliti, jujur, bertanggung jawab, peduli, dan berperilaku santun
2.2 Keterampilan sosial: bekerjasama, menyampaikan pendapat, bertanya, menjadi pendengar yang baik, dan menanggapi pendapat orang lain

3. Psikomotor
3.1 Setelah dilakukan percobaan mengenai Hukum Hooke, siswa dapat melakukan pengukuran panjang benda elastis sebelum dan sesudah digantungi beban dengan benar

E. Materi Pembelajaran
1. Pengertian sifat elastis : kemampuan suatu benda untuk kembali ke bentuk awalnya segera setelah gaya luar yang diberikan kepada benda itu dihilangkan (dibebaskan).
2. Pengertian sifat plastis : benda tidak dapat kembali kebentuk aσwalnya segera setelah gaya luar dihilangkan.
3. Tegangan tarik σ didefinisikan sebagai hasil bagi antara gaya tarik F yang dialami kawat dengan luas penampangnya (A).
Secara matematis
tegangan = gaya/luas atau σ = F/A
Keterangan: σ = tegangan (N m-2)
F = gaya (N)
A = luas penampang (m2)
Regangan e didefinisikan sebagai hasil bagi antara pertambahan panjang ∆L dengan panjang awal L.
Regangan = (pertambahan panjang)/(panjang awal) atau e = ∆L/L
Keterangan : e = regangan
∆L= pertambahan panjang (m)
L = panjang (m)
Modulus Elastis didefinisikan sebagai perbandingan antara tegangan dan regangan yang dialami bahan.
Modulus Elastisitas = tegangan/regangan atau E = σ/e
Keterangan : E = Modulus Elastisitas Nm-2
e = regangan
σ = tegangan
4. Hubungan antara gaya tarik F dengan Modulus Elastis :
E = σ/e (F/A)/(∆L/L)

F/A = E ∆L/L

5. Hukum Hooke menyatakan bahwa “ jika gaya tarik tidak melampaui batas elastis pegas, maka pertambahahn panjang pegas berbanding lurus (sebanding) dengangaya tariknya”. Secara matematis ditulis F = k ∆x

6. Percobaan hukum Hooke bertujuan untuk menyelidiki hubungan antara gaya dengan pertambahan panjang.

7. Hukum Hooke untuk susunan pegas
Susunan seri
Untuk memudahkan pembahasan, diambil pegaspegas yang tetapan pegasnya sama. Rumus dasar yang digunakan adalah rumus modulus Young dan Hukum Hooke K = EA/∆X Jadi, tetapan pegas berbanding lurus dengan luas penampang pegas A, modulus Young E, dan berbanding terbalik dengan panjang pegas X. Persamaan ini menyatakan tetapan pegas tunggal. Jika dua buah pegas disusun secara seri ,maka panjang pegas menjadi 2X. Oleh karena itu, persamaan pegasnya (ks) menjadi seperti berikut

ks = EA/2X = 1/2 ( EA/∆X ) = 1/2 k
Jadi, bila 2 pegas yang tetapan pegasnya sama dirangkaikan secara seri, maka susunan ini akan memberi tetapan pegas susunan sebesar 1/2 k Sedangkan untuk n pegas yang tetapannya sama dan disusun seri, maka berlaku persamaan berikut
ks = k/n
Susunan Paralel
Bila pegas disusun paralel, maka panjang pegas (X) tetap. Sedangkan luas penampang pegas berubah dari A menjadi 2A, bila pegas yang disusun sebanyak dua buah. Jadi, untuk dua buah pegas yang disusun secara paralel, tetapan pegasnya (kp) menjadi seperti berikut.
kp = (E ( 2A ))/X = 2 ( EA/X ) = 2k
Bila ada n pegas yang tetapan pegasnya sama disusun secara paralel, maka akan menghasilkan pegas yang lebih kuat. Karena tetapan pegasnya menjadi lebih besar.
kp = nk
Catatan: Bahan ajar tentang elastisitas pada buku siswa (terlampir)

F. Model/Metode Pembelajaran
• Model Pembelajaran : Cooperative Learning tipe STAD (Student Team Achievement Division)
• Metode Pembelajaran : Tugas; Kerja kelompok; Diskusi-Tanya jawab; Percobaan/Eksperimen.
• Pendekatan Pembelajaran : Pendekatan Scientific

G. Kegiatan Pembelajaran
Kegiatan Deskripsi Kegiatan Alokasi Waktu
Pendahuluan 1. Motivasi dan Apersepsi:
Siswa diberikan pertanyaan dan diminta memprediksi jawabannya, guna mengukur prior knowledge-nya tentang elastisitas bahan.
2. Mengkomunikasikan tujuan pembelajaran. 3 menit
Inti 1. Siswa dibimbing guru untuk dapat mendiskripsikan pengertian Hukum Hooke.
2. Siswa dibimbing guru membentuk kelompok yang terdiri dari 5-6 siswa. Kelompok terdiri dari siswa yang tingkat kemampuannya beragam (heterogen).
3. Disediakan LKS dengan panduan yang ada di dalamnya mampu melaksanakan eksperimen untuk menentukan besar konstanta
gaya benda elastis melalui interpretasi grafik.
4. Setiap kelompok diminta perwakilannya untuk menjelaskan hasil pengamatan dari eksperimen di depan kelas.
5. Kelompok lain diberikan kesempatan untuk bertanya mengenai konsep dan teknik yang digunakan masing-masing kelompok dalam menjelaskan hasil pengamatan dari eksperimen .
6. Apabila siswa mengalami kesulitan maka guru memberikan solusi yang tepat.

10 menit
Penutup 1. Siswa dibimbing guru untuk menyimpulkan hasil percobaan tentang hal-hal yang berhubungan dengan materi di atas.
2. Guru meminta setiap siswa mengerjakan soal yang ada di LKS dan harus dikumpul pada pertemuan berikutnya.
3. Guru memberikan waktu kepada siswa untuk bertanya atau menyampaikan usulan agar pembelajaran berikutnya lebih baik.
2 menit

H. Alat/Media/Sumber Pembelajaran
1. Buku Siswa “Elastisitas Bahan”
2. LKS “Hukum Hooke”
3. Laptop dan LCD dan media presentasi
4. Alat dan bahan untuk eksperimen

I. Penilaian Hasil Belajar
1. Teknik Penilaian: pengamatan, tes tertulis
2. Prosedur Penilaian:
No Aspek yang dinilai Teknik Penilaian Waktu Penilaian
1. Sikap
a. Terlibat aktif dalam pembelajaran
b. Bekerjasama dalam kegiatan kelompok.
c. Toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif. Pengamatan Selama pembelajaran dan saat diskusi
2. Pengetahuan
a. Mendiskripsikan tentang Hukum Hooke.
b. Menjelaskan hasil pengamatan dari eksperimen di depan kelas.

Pengamatan dan tes
Penyelesaian tugas individu dan kelompok
3.
Keterampilan
a. Mampu melaksanakan eksperimen untuk menentukan besar konstanta
gaya benda elastis melalui interpretasi grafik

Pengamatan
Penyelesaian tugas (baik individu maupun kelompok) dan saat diskusi

J. Instrumen Penilaian Hasil belajar
Tugas Kelompok (Terstruktur)
Jawablah pertanyaan-pertanyaan dibawah ini dalam diskusi kelompok atau diskusi kelas berdasarkan buku sumber !
1. Amatilah benda-benda yang berada dilingkunganmu, coba daftar sebanyak mungkin mana benda elatis dan mana benda tak elastis
2. Dengan menggunakan beberapa beban m, pegas dan mistar, rancanglah sebuah percobaan untuk dapat mengukur (menentukan) tetapan pegas dari sebuah pegas.
3. Tabel di bawah ini menunjukkan pembacaan skala pada percobaan menarik sebuah pegas.
Beban (N) 0 1 2 3 4 5 6
Panjang ( mm ) 40 49 58 67 76 88 110
Pertambahan Panjang ( mm ) …… ……. ……. ……. ……… ……… …….
a. lengkapilah tabel tersebut
b. berapa panjang pegas mula-mula……?
c. buatlah grafik pertambahan panjang pegas terhadap beban
4. Siapkanlah sebuah karet gelang, ukurlah tetapan gayanya dengan
menggunakan rumus : k = , dengan Δx adalah perpanjangan karet
gelang ketika ujungnya digantungkan sebuah beban secara vertikal yang
bermassa m, perkirakan energi potensial maksimum yang dapat disimpan oleh
karet gelang tersebut …!
5. Empat buah pegas identik dengan konstanta gaya k, disusun seperti gambar dan
diberi beban bermassa m. Hitunglah pertambahan panjang untuk susunan
pegas itu dan nyatakan dalam m, g, dan k.

Tugas Tak Terstruktur
SOAL – SOAL :
A. Lingkarilah jawaban yang benar dibawah ini !
1. Suatu benda jika ditarik pada keadaan tertentu, dan kemudian gayanya dilepas, dan benda tersebut memiliki sifat tidak kembali kebentuk semula. Sifat seperti ini disebut sifat ……
b. Kekerasan d. Elastik
c. Kekuatan e. Tak elastik
d. Regangan
2. Menurut Hukum Hooke, pertambahan panjang suatu batang yang ditarik oleh suatu gaya …….
a. Berbanding lurus dengan besar gaya tarik.
b. Berbanding lurus dengan luas penampang batang
c. Berbanding terbalik dengan modulus Young batang tersebut
d. Berbanding terbalik dengan panjang mula-mula.
e. Berbanding lurus dengan panjang mula-mula.
3. Sebuah batang yang panjang mula-mulanya L ditarik ditarik dengan gaya F. jika luas penampang batang A dan modulus elastik batang tersebut E, maka rumus pertambahan panjangnya adalah ……..
a. E A d. F A .
F L E L
b. E A L e. F L A .
F E
c. F L
E A
4. Sebuah pegas panjangnya l0, luas penampang A, dan modulus Young-nya E. maka, besarnya konstanta gaya pegas (k) yang dimiliki oleh pegas tersebut adalah …….
a. E A d. E .
l0 A l0
b. A l0 e. A .
E E l0
b. E l0
A
5. Sebuah batang elastik panjangnya 4 m dan luas penampang 1,5 cm2. Ketika batang tersebut digantungi beban 330 kg ternyata merenggang 0,7 mm. Besarnya modulus Young bahan batang tersebut adalah …….
a. 1,23 x 1011 N/m2
b. 1,50 x 1011 N/m2
c. 3,30 x 1011 N/m2
d. 4,32 x 1011 N/m2
e. 5,25 x 1011 N/m2
6. Sebuah logam mempunyai modulus Young 4 x 106 N/m2, luas penampangnya 20 cm2 dan panjangnya adalah 5 meter. Konstanta gaya dari logam tersebut adalah …
a. 400 N/m d. 3200 N/m
a. 800 N/m e. 6400 N/m
b. 1600 N/m
7. Besarnya tegangan yang dilakukan pada sebuah batang adalah 2 x 106 N/m2. Jika panjang batang adalah 4 meter dan modulus elastisitasnya 2,5x 108 N/m2, maka pertambahan panjang batang adalah ……
a. 0,8 cm d. 5,0 cm
b. 1,6 cm e. 6,4 cm
c. 3,2 cm
8. Dua pegas identik dengan konstanta gaya 400 N/m. Kedua pegas tersebut diparalelkan. Tentukan besarnya gaya yang dibutuhkan untuk menarik pegas sehingga bertambah panjang 5 cm !
a. 20 N d. 120 N
b. 40 N e. 160 N
c. 80 N
9. Empat buah pegas masing-masing dengan konstanta gaya k disusun secara paralel. Konstanta gaya susunan pegas tersebut adalah ………
a. k d. 2 k
b. e. 4 k
c. k
10. Dua pegas masing-masing memiliki konstanta 200 N/m dan 600 N/m disusun seri dan diberi beban 40 N. Pertambahan panjang susunan pegas itu adalah….
a. 25,5 cm d. 28,4 cm
b. 26,7 cm e. 29,8 cm
c. 27,3 cm
ESSAY
1. a. Seutas karet yang memiliki ukuran luas penampang 1,2 mm x 0,25 mm ditarik
oleh sebuah gaya 1,5 N. Berapakah tegangan pada karet ?
b. Seutas karet memiliki panjang awal 90 mm, lalu ditarik sampai panjangnya
menjadi 120 mm. Berapakah regangan karet ?
2. Seutas kawat piano dari baja memiliki panjang 1,50 m dan diameter 0,20 cm. Berapa besar gaya tegangan pada kawat itu jika kawat memanjang 0,30 cm ketika dikencangkan ? (modulus elastis baja adalah 2,0 x 1011 N/m2).
3. Untuk keamanan dalam mendaki, seorang pendaki gunung menggunakan sebuah tali nilon dengan panjang 50 m dan garis tengahnya 1,0 cm. Ketika penopang pendaki yang bermassa 80 kg, tali bertambah panjang 1,6 m. Tentukan modulus elastisitas nilon. (ambil =3,15 dan g = 9,86 m/s2).
4. Sebuah pegas bertambah panjang 4 cm ketika ditarik oleh gaya 12 N.
a. Berapakah pertambahan panjang pegas jika ditarik oleh gaya 6 N ?
b. Berapakah gaya tarik yang perlu dikerjakan untuk merenggangkan pegas sejauh 3 cm ?
5. Sebuah pegas vertikal dengan panjang tanpa beban 30 cm, diikat pada ujung atasnya. Ketika benda bermassa 100 g diletakkan diatas suatu wadah yang digantung pada ujung bawah pegas, panjang pegas menjadi 36 cm. Ketika benda bermassa 200 g diletakkan di atas wadah, panjang pegas menjadi 40 cm, Hitunglah massa wadah itu.

KUNCI JAWABAN :
A. PILIHAN GANDA
1. E 6. C
2. A 7. C
3. A 8. B
4. A 9. E
5. A 10. B
B. ESSAY
1. (a) A = (1,2 x 10-3)(0,25 x 10-3) m2 = (0,25 x 10-7) m2; F = 1,5 N
σ = 0,5 x 107 N/m2 = 5 x 106 N/m2
(b) Lo = 90 mm; L = 120 mm; e =
2. D = 0,20 cm = 2 x 10-3 m; r = 1 x 10-3 m; F = …?
ΔL = 0,30 cm = 3,0 x 10-3 m; E = 2,0 x 1011 N/m2
;
F = 4π(1,0 x 10-3)2(2,0 x 10-3)(2,0 x 1011) = 16π x 102 N
= 4 (3,14) 102 = 5024 N
3. L = 50 m; D = 1,0 x 10-2 m → r = 0,5 x 10-2 m = 5 x 10-3 m;
m = 80 kg; F = mg; ΔL = 1,6 m; E = …?
π = 3,14; g = 9,86 m/s2;
N/m2
4. Diketahui :
F1 = 12 N ; Δx1 = 4 cm
K = F1/ Δx1 = 12 / 4 = 3 N/cm
a. Gaya F2 = 6 N Δx2 = ……….?
F2 = k . Δx2 …….. Δx2 = F2 / k
= 6 / 3
= 2 cm
b. Pertambahan panjang Δx3 = 3 cm…….F = …..?
F = k . Δx
= 3 . 3
= 9 N
5. F1 – m1g = k Δy1
(0,1 + m)g = k Δy1 ……………………………(1)
Δy2 = 40 – 30 = 10 cm = 10 x 10-2 m
F2 – m2g = k Δy2
(0,2 + m)g = k Δy2 ……………………………(2)
; m = kg = 50 g
Jadi, massa wadah adalah 50 g 
LEMBAR PENGAMATAN PENILAIAN SIKAP
Mata Pelajaran : Fisika
Kelas/Semester : X/2
Tahun Pelajaran : 2013/2014
Waktu Pengamatan :
Indikator sikap aktif dalam pembelajaran Elastisitas
1. Kurang baik jika menunjukkan sama sekali tidak ambil bagian dalam pembelajaran
2. Baik jika menunjukkan sudah ada usaha ambil bagian dalam pembelajaran tetapi belum ajeg/konsisten
3. Sangat baik jika menunjukkan sudah ambil bagian dalam menyelesaikan tugas kelompok secara terus menerus dan ajeg/konsisten

Indikator sikap bekerjasama dalam kegiatan kelompok.
1. Kurang baik jika sama sekali tidak berusaha untuk bekerjasama dalam kegiatan kelompok.
2. Baik jika menunjukkan sudah ada usaha untuk bekerjasama dalam kegiatan kelompok tetapi masih belum ajeg/konsisten.
3. Sangat baik jika menunjukkan adanya usaha bekerjasama dalam kegiatan kelompok secara terus menerus dan ajeg/konsisten.

Indikator sikap toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif.
1. Kurang baik jika sama sekali tidak bersikap toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif.
2. Baik jika menunjukkan sudah ada usaha untuk bersikap toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif tetapi masuih belum ajeg/konsisten.
3. Sangat baik jika menunjukkansudah ada usaha untuk bersikap toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif secara terus menerus dan ajeg/konsisten.
Bubuhkan tanda √pada kolom-kolom sesuai hasil pengamatan.
No Nama Siswa Sikap
Aktif Bekerjasama Toleran
KB B SB KB B SB KB B SB
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Keterangan:
KB : Kurang baik
B : Baik
SB : Sangat baik

LEMBAR PENGAMATAN PENILAIAN KETERAMPILAN
Mata Pelajaran : Fisika
Kelas/Semester : X/2
Tahun Pelajaran : 2013/2014
Waktu Pengamatan :
Indikator terampil menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah yang relevan yang berkaitan dengan menentukan besar konstanta gaya benda elastis melalui interpretasi grafik. Bubuhkan tanda √pada kolom-kolom sesuai hasil pengamatan.
No Nama Siswa Keterampilan
Menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah
KT T ST
1
2
3
4
5
6
7
8
9
Keterangan:
KT : Kurang terampil
T : Terampil
ST : Sangat terampil

 

Rpp Perubahan Kimia

Posted: January 24, 2014 in Uncategorized

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

 

Satuan Pendidikan                              : Sekolah Menengah Pertama X

Mata Pelajaran                                    : IPA

Kelas/Semester                                    : VII/Semester I

MateriPokok                                       : Perubahan Materi

Sub Materi                                          : Perubahan Kimia

AlokasiWaktu                                     : 1 x 40 Menit (1 kali tatapmuka)

 

 

A. KOMPETENSI INTI

1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya

2. Menghargai dan menghayati perilaku jujur,disiplin, tanggungjawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya

3. Memahami pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata.

4. Mencoba, mengolah, dan menyaji dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi,dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori.

 

  1. KOMPETENSI DASAR

1.1. Mengagumi keteraturan dan kompleksitas ciptaan Tuhan tentang aspek fisik dan kimiawi, kehidupan dalam ekosistem, dan peranan manusia dalam lingkungan serta mewujudkannya dalam pengamalan ajaran agama yang dianutnya

2.1. Menunjukkan perilaku ilmiah (memiliki rasa  ingin tahu; objektif; jujur; teliti; cermat; tekun; hati-hati; bertanggung jawab; terbuka; kritis; kreatif; inovatif dan peduli lingkungan) dalam aktivitas sehari-hari sebagai wujud implementasi sikap dalam melakukan percobaan dan berdiskusi.

3.5. Memahami karakteristik zat, serta perubahan fisik dan kimia pada zat yang dapat dimanfaatkan untuk kehidupan sehari-hari.

4.6. Melakukan pemisahan campuran berdasarkan sifat fisik dan kimia

 

  1. INDIKATOR
    1. Menjelaskan pengertian perubahan kimia
    2. Menjelaskan ciri-ciri perubahan kimia
    3. Menjelaskan contoh-contoh peristiwa perubahan kimia di alam
    4. Menjelaskan perbedaan perubahan fisika dan perubahan kimia
    5. Terampil melaporkan hasil percobaannya secara lisan
    6. Menunjukkan kemampuan bekerjasama didalam melaksanakan percobaan dan atau menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan
    7. Menunjukkan kesadaran bahwa semua yang diciptakan olehTuhan YME  itu tidak ada yang sia-sia
    8. Menunjukkan sikap disiplin di dalam pelaksanaan tugas

 

  1. TUJUAN PEMBELAJARAN
  2. Setelah melakukan percobaan bersama kelompok, Siswa dapat menjelaskan pengertian perubahan kimia dengan kata-kata sendiri
  3. Setelah melakukan percobaan bersama kelompok, Siswa dapat menjelaskan sekurang-kurangnya dua ciri ciri perubahan kimia
  4. Setelah melakukan percobaan bersama kelompok, Siswa dapat menjelaskan minimal tiga contoh peristiwa perubahan kimia di alam
  5. Setelah melakukan percobaan bersama kelompok, Siswa dapat menjelaskan sekurang kurangnya dua perbedaan perubahan fisika dan perubahan kimia
  6. Setelah melakukan percobaan bersama kelompok, Siswa dapat menarik kesimpulan berdasarkan data hasil percobaannya
  7. Siswa mampu dan terampil dalam melaporkan hasil percobaannya secara lisan
  8. Siswa mampu menunjukkan kemampuan bekerjasama di dalam melaksanakan percobaan dan atau menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan
  9. Siswa mampu menunjukkan kesadaran bahwa semua yang diciptakan olehTuhan YME  itu tidak ada yang sia-sia
  10. Siswa mampu menunjukkan sikap disiplin di dalam pelaksanaan tugas

 

 

  1. MATERI PEMBELAJARAN

 

Pengertian perubahan kimia

Perubahan kimia adalah perubahan zat yang dapat

menghasilkan zat baru.

 

Ciri-ciri Perubahan Kimia

Sebagaimana dijelaskan pada pembahasan tentang perubahan kimia di atas,

bahwa dalam perubahan kimia selalu terbentuk zat baru. Untuk membantu

peserta didik mengidentifikasi perubahan kimia, perhatikan penjelasan

tentang ciri-ciri perubahan kimia di bawah ini.

 

a. Pembentukan Gas

Reaksi kimia bersifat unik, pada beberapa reaksi kimia tertentu dapat

membentuk gas. Contoh reaksi kimia yang membentuk gas ialah reaksi logam

magnesium (Mg) dengan asam klorida (HCl).

 

b. Pembentukan Endapan

Pada beberapa reaksi kimia tertentu dapat menghasilkan endapan. Mengapa

pada reaksi kimia dapat menghasilkan endapan? Reaksi pengendapan adalah reaksi yang menghasilkan suatu senyawa yang berbentuk padatan. Padatan tersebut tidak larut (tidak bercampur secara homogen) dengan cairan di sekitarnya, sehingga disebut sebagai endapan.

Salah satu contoh reaksi yang dapat membentuk endapan ialah antara

barium klorida (BaCl2) dengan natrium sulfat (Na2SO4)

 

c. Perubahan Warna

Mengapa suatu reaksi kimia dapat menghasilkan warna yang berbeda?

Ketika suatu reaksi kimia berlangsung, maka akan terjadi perubahan komposisi dan terbentuk zat baru, yang mungkin memiliki warna yang berbeda.Contoh reaksi kimia yang memberikan warna yang khas adalah reaksi antara tembaga sulfat (CuSO4) dengan air (H2O). Warna tembaga sulfat adalah putih, apabila ditambahkan air, maka warnanya berubah menjadi biru. Warna biru tersebut adalah warna senyawa baru yang terbentuk, yaitu CuSO4.5H2O.

d. Perubahan suhu

Reaksi kimia disertai perubahan energi. Salah satu bentuk energi yang sering

menyertai reaksi kimia adalah energi panas. Dengan demikian, terjadinya

perubahan kimia akan ditandai dengan perubahan energi panas, atau aliran

kalor dari atau ke lingkungan. Akibatnya suhu hasil reaksi dapat menjadi lebih

tinggi dan dapat menjadi lebih rendah daripada suhu pereaksinya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. METODE/STRATEGI PEMBELAJARAN

Eksperimen/Discovery learning

 

  1. MEDIA/SUMBER BELAJAR

Buku Siswa

Lembar Kerja Siswa (LKS)

Alat dan Bahan :

Kertas, Kapur, Air, Gelas, Gunting, Korek Api

 

 

  1. LANGKAH PEMBELAJARAN

 

Kegiatan

Langkah Discovery Learning

DeskripsiKegiatan

Alokasiwaktu (menit)

 

PERTEMUAN-1

 

2X40 MENIT

Pendahu-luan

Mengamati

Pelajaran dimulai dengan guru mengajukan pertanyaan kepada siswa mengenai perubahan kimia pada proses pembakaran kayu dan perkaratan besi.

 

Motivasi dan apersepsi

-  Apakah pembentukan gas tergolong ciri reaksi kimia?

-  Mengapa makanan bisa menjadi tengik?

 

Inti

 

Mengeksplorasi

 

Guru memberikan informasi mengenai pengertian perubahan kimia

 

 

Guru membimbing peserta didik dalam pembentukan kelompok

 

Perwakilan tiap kelompok diminta untuk mengambil alat dan bahan eksperimen

 

Peserta didik dalam setiap kelompok melakukan eksperimen sesuai dengan langkah kerja pada lembar kerja siswa

 

Guru memeriksa eksperimen  yang dilakukan peserta didik apakah  sudah dilakukan dengan benar atau belum. Jika masih ada peserta didik atau kelompok yang belum dapat melaku-kannya dengan benar, guru dapat langsung memberikan bimbingan

 

Peserta didik mendiskusikan dengan kelompoknya untuk membuat kesimpulan dari hasil

percobaan

 

Peserta didik mempresentasikan hasil diskusi kelompok secara klasikal

 

Guru menanggapi hasil diskusi kelompok peserta didik dan memberikan informasi yang

sebenarnya.

 

Penutup

 

Peserta didik (dibimbing oleh guru) berdiskusi untuk membuat rangkuman kegiatan

 

Guru memberikan tugas rumah berupa latihan soal

 

 

 

 

  1. PENILAIAN PEMBELAJARAN

 

Teknik : Penilaian Produk (LP-01)

  Penilaian Kinerja (LP-02 )

  Penilaian Sikap (LP-03 )

 

 

 

 

 

Bandarlampung, Oktober 2013

Mengetahui

Kepala Sekolah                                                                        Guru Mata Pelajaran

 

 

 

Abidin Zainuri, S.Pd, MM                                            Nur Aziz Rahmat Putra, C.S.Pd

Nip : 19621109 198512 2 005                                                NPM : 1113022041

 

 

 

 

Kelompok :

Anggota

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Petunjuk :

1. Tulis nama kelompok dan anggota pada tempat yang telah disediakan

2. Lakukan kegiatan sesuai dengan perintah yang telah diberikan

3. Diskusikan bersama dengan kelompokmu, pertanyaan yang ada

 

A. Percobaan 1

Amati selembar kertas yang telah disediakan, lalu guntinglah menjadi potongan-potongan kecil.

 

Ciri ciri kertas

Sebelum dipotong

Setelah dipotong

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

B. Percobaan 2

Amati selembar kertas yang telah disediakan, lalu bakarlah kertas tersebut.

Bagaimana keadaan kertas tersebut?

 

Sebelum di bakar

Setelah dibakar

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

C. Percobaan 3

Reaksikan kapur dan air pada tempat yang telah disediakan, lalu amati dan catat keadaan awal dan keadaan akhir kapur pada tabel berikut!

 

Sebelum direaksikan

Setelah direaksikan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pertanyaan:

1. Berdasarkan Eksperimen yang telah kamu lakukan, manakah peristiwa yang termasuk perubahan fisika?tuliskan alasanmu!

Jawab: ………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

 

 

 

2. Berdasarkan Eksperimen yang telah kamu lakukan, manakah peristiwa yang termasuk perubahan kimia?tuliskan alasanmu!

Jawab: ………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

 

3. Berdasarkan Eksperimen yang telah kamu lakukan, lengkapi tabel berikut ini!

 

Ciri ciri perubahan Fisika

Ciri ciri perubahan kimia

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lembar Penilaian Kognitif : Perubahan Kimia (LP-01)

 

A. Pilihlah salah satu jawaban yang kamu anggap benar!

 

1.Perubahan pada zat yang tidak menimbulkan zat baru disebut ….

a.Perubahan kimia

b.Perubahan fisika

c.Perubahan wujud

d.Perubahan bentuk

 

2.Perubahan pada zat yang menimbulkan zat baru disebut ….

a.Perubahan volume

b.Perubahan bentuk

c.Perubahan kimia

d.Perubahan fisika

 

3.Batang korek api yang dibakar menghasilkan zat baru yaitu ….

a.Kayu

b.Api

c.Arang

d.udara

 

4.Perhatikan data di bawah ini!

(1)Lilin meleleh

(2)Kertas dibakar

(3)Es mencair

(4)Kayu melapuk

Yang mengalami perubahan fisika pada data di atas adalah nomor ….

a.(1) dan (2)

b.(1) dan (3)

c.(2) dan (3)

d.(2) dan (4)

 

5.Perubahan uap air menjadi embun di pagi hari merupakan salah satu contoh perubahan ….

a.Zat

b.Kimia

c.Fisika

d.materi

 

6.Perhatikan data dibawah ini!

(1)Air mendidih

(2)Nasi menjadi tepung

(3)Obat nyamuk dibakar

(4)Singkong menjadi tape

Yang mengalami perubahan kimia pada data di atas adalah nomor ….

a.(1) dan (2)

b.(2) dan (3)

c.(3) dan (4)

d.(2) dan (4)

 

7.Di dalam proses fotosintesis pada tumbuhan terjadi perubahan ….

a.Bentuk daun

b.Kimia

c.Ukuran daun

d.Fisika

 

B. Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan benar!

 

8.Jelaskan perbedaan antara perubahan fisika dan perubahan kimia!

9.Sebutkan 3 contoh perubahan fisika yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari!

10.Sebutkan 3 contoh perubahan kimia yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari!

 

 

Lembar Penilaian Kinerja : Perubahan Kimia (LP-02)

 

 

Nama        : ……………….

Kelas         : ……………….

Judul praktikum: …………..

 

Petunjuk: Berilah tanda cek list (V)pada skor 1,2,3, atau 4 sesuai pada rubrik.

 

No

Aspek keterampilan

Skor

1

2

3

4

Persiapan

 

 

 

 

1

Membawa alat dan bahan

 

 

 

 

Pelaksanaan

 

 

 

 

2

Melakukan percobaan

 

 

 

 

3

Melakukan pengamatan

 

 

 

 

Penyelesaian

 

 

 

 

4

Membersihkan alat dan bahan

 

 

 

 

5

Mengembalikan alat dan bahan

 

 

 

 

 

Rubrik Penskoran:

4 : Jika siswa melakukan aspek keterampilan dengan sangat tepat

3 : Jika siswa melakukan aspek keterampilan dengan tepat

2 : Jika siswa melakukan aspek keterampilan dengan kurang tepat

1 : Jika siswa melakukan aspek keterampilan dengan tidak tepat

 

 

 

A Thousand Years (Christina Perri Cover ) – Jehaziel Alburo Lyrics.